Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Inilah Foto Keluarga Wedana (Wedono) Distrik Puger di Era Kolonial

 Poeger atau sekarang yang dikenal dengan nama Kecamatan Puger dalam sejarah pernah menjadi sebuah distrik yang besar. Yang wilayahnya meliputi seluruh pantai selatan Jember. Masih di era Karesidenan Besuki (Besoeki), Poeger dipimpin oleh Kepala Distrik yang disebut dengan Wedana (dibaca Wedono). 

Salah satu bangsawan pribumi yang pernah menjabat sebagai Wedana di Distrik Puger adalah Raden Koesoemo Amidjojo (Raden Kusumo Amijoyo). Nama ini saya dapatkan dalam Buku Een Reis Door Oost-Java, yang terbit tahun 1912 di Belanda. 

Sangat mungkin C.M Vissering --penulis buku tersebut, melakukan kunjungan ke Distrik Puger jauh sebelum tahun 1912. Karena dalam kisah perjalanan tersebut, Penulis beserta rombongannya masih harus berkendara menaiki kereta kuda dari stasiun Rambipuji ke Puger. Masih belum ada trem atau yang orang lokal menyebutnya lori. 

Tidak hanya menyebutkan nama saja. Buku yang terbit dalam bahasa Belanda tersebut menyertakan foto keluarga Wedono Puger

Foto Keluarga Wedana Puger - Raden Kusumo Amijoyo beserta Keluarga

Istri Wedono, dalam buku yang ditulis oleh Penulis Perempuan Berkebangsaan Belanda tersebut tidak disebutkan namanya, hanya diebut Raden Ajoe (Raden Ayu). Ini adalah gelar, bukan nama diri. Foto ini diambil oleh Rombongan C.M Vissering setelah dia melakukan kunjungan ke Ambulu dan Watu Ulo.

Dalam tulisannya, C.M Vissering menyebutkan bahwa Wedono memakai 'Sarung'. Padahal dalam semesta Jawa, jelas yang dipakai oleh Raden Koesoemo Amidjojo adalah Jarik alias Jarit alias Sewek. Yang merupakan pakaian kebesaran Bangsawan Jawa. Lengkap dengan Beskap Putih dan Blangkonnya

Sementara tiga bocil dalam foto itu merupakan anak Wedono Poeger. Juga dipakaikan Jarik. Sementara sang Raden Ajoe (Raden Ayu), mengenakan jarik dengan kebaya. Rambutnya disanggul. Foto diambil di Pendopo Kawedanan (Distrik) Puger yang terletak cukup jauh dari Pantai tapi cukup dekat dengan Kali Bedadung, begitu penggambaran lokasi oleh C.M Vissering.

Baca Juga: Foto dan Gambaran Lanskap Alam Perejalanan Perempuan Eropa ke Puger-Ambulu-Watu Ulo di era Kolonial Belanda

Dalam foto juga tampak Pendopo Kawedanan Puger atau Distrikten Poeger terbuat dari kayu dan anyaman bambu. Tergantung lampu minyak yang cukup rendah di Pendopo tersebut. Lampu minyak ini menandakan bahwa di Pendopo Poeger era Kolonial masih belum ada aliran listrik. Sama dengan kisah yang disampaikan oleh C.M Vissering ketika berjalan menuju Pesangrahan (Rumah Singgah/ Penginapan) Wedono mengirim pengawal yang membawakan lampu lentera sebagai penerang jalan. 

Selain itu, juga  model pendopo yang terbuka. Tampak di sisi kiri belakang foto, ada halaman yang luas dengan sinar matahari yang cukup. 

Sepertinya ini adalah foto yang cukup langka. Mengingat ketika mencari foto dengan kata kunci 'wedono Puger' tidak ditampilkan. Meskipun buku Een Reis Door Oost-Java bukan merupakan dokumen resmi pemerintah Belanda. Tapi sebagai buku yang terbit tahun 1912 --tentu perjalanan saat berkunjung ke Poeger jauh sebelum itu-- informasi ini sangat akurat. Meskipun masih harus disandingkan dengan data lain yang lebih valid. 

Tidak hanya mampir di Poeger. Rombongan C.M Vissering juga mampir ke Asisten Wedono di Amboeloe (Kecamatan Ambulu), tapi sayangnya tidak ada foto di tempat tersebut. 

إرسال تعليق for "Inilah Foto Keluarga Wedana (Wedono) Distrik Puger di Era Kolonial"