Menelisik Bentang Alam Puger-Ambulu-WatuUlo Tahun 1912 Melalui Catatan Perjalanan Perempuan Eropa
Tahun 1912, terbit sebuah buku yang berjudul EEN REIS DOOR OOST-JAVA yang jika diterjemahkan secara bebas dapat diartikan Suatu Perjalanan Melintasi Timur Jawa. Buku yang ditulis oleh Penulis Perempuan Belanda yang bernam C.M Vissering.
Vissering menuliskan kisah perjalanannya ke wilayah yang kemudian disebut dengan Jawa Timur ini dalam beberapa bab berdasarkan tempat yang dikunjungi. Tempat-tempat yang dikunjungi adalah Tanjung Priok-Surabaya; Gunung Semeru, Dataran Tinggi Ijen, Banyuwangi, Tengger, dan Tosari.
Adapun wilayah yang kemudian dikenal dengan nama Jember yang dikunjungi adalah Rambipuji, Puger, Ambulu, dan Watu Ulo. Perjalanan ini tertuang dalam bab yang berjudul Naar Het Zuiderstrand Van Bezoekie alias Menuju Pantai Selatan Besuki.
Besuki di masa itu adalah sebuah karesidenan yang meliputi Puger dan Watu Ulo. Tentu yang dimaksud pantai selatan adalah kedua pantai ini. Bukan Besuki yang pantai utara. Dalam buku yang terbit dalam bahasa Belanda ini selain digambarkan secara deskriptif melalui tulisan, juga disertai foto asli yang diambil langsung saat perjalanan tersebut. Vissering ditemani juga oleh beberapa orang juru foto yaitu J. FABER dan Tuan-tuan J. BIENFAIT, G. P. LEWIS, TH. MENS FIERS SMEDING.
Bentang alam yang digambarkan oleh Nyonya Vissering dalam buku tersebut meliputi jalan dari Stasiun Rambipuji ke Puger, Keadaan Kali Bedadung dan Muaranya, Kondisi Jalan dari Puger sampai Ambulu, Pemukiman warga dari Ambulu Sampai Watu Ulo yang dalam buku tersebut ditulis Batu Uler.
Dalam buku yang didigitalisasi dan diunggah dengan kualitas baik di website https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ ini digambarkan bahwa jalan di wialayah yang dilalui ini jalannya ada yang sudah halus ada yang berlubang. Masih juga ada huta yang 'perawan' maksudnya hutan alami dengan pohon-pohon besar. Juga digambarkan Pantai Watu ulo yang indah tapi masih cukup mengerikan.
Berikut ini adalah gambaran bentang alam dalam buku yang diterbitkan oleh penerbit De Erven F. Bohn ini:
1. Jalan dengan Tanaman Asam
Penggambaran jalan dengan tanaman asam ini digambarkan oleh Vissering saat menempuh perjalanan dari Stasiun Rambipoedji ke Pesanggrahan (kalah sekarang mungkin hotel) yang ada di Poeger. Vissering beserta rombongannya selepas turun dari Kereta Api di Rambipoedji melanjutkan perjalanan ke Puger dengan kereta kuta. Artinya di saat kunjungan tersebut, masih belum ada trem yang jalur Puger. Makan digambarkan oleh Vissering bahwa jalannya sudah lebar dan ditanami pohon asam di kakan kiri jalan.
2. Kali Bedadung Yang Tenang
| Sumber: Tangkapan Layar Buku Digital Een Reis Door Oost-Java karya C.M Vissering |
Kali Bedadung yang difoto dan dikunjungi oleh Vissering adalah Kali Bedadung yang ada di Desa Puger. Digambarkan airnya tenang dan ada pohon di tepi sungai dengan tanaman yang rendah dan rimbun. Kali Bedadung yang menjelang Muara di Pantai Puger memang terlihat tenang dan tampak sangat bersih.
3. Perahu Kecil Bercadik
Perahu-perahu yang ada di Puger digambarkan memliki cadik, kecil dan hanya selebar bentangan orang tangan orang Eropa. Digambarkan juga bahwa di bagian tengan perahu tersebut ada papan yang digunakan untuk tempat duduk. Perahu ini digunakan untuk mengantarkan rombongan Vissering ke Muara dan Pantai Selatan Puger. Karena Distrik Puger pada waktu itu digambarkan terletak agak jauh dari pantai. Tapi dekat dengan Kali Bedadung.
4. Hutan yang Baru Ditebang
Penggambaran hutan yang baru ditebang untuk dijadikan pemukiman digambarkan saat Vissering dan rombongan melintasi jalan setelah menyeberang jembatan bambu ke arah Ambulu. Selain menggambarkan adanya hutan yang ditebang untuk dijadikan pemukiman juga digambarkan masih ada hutan di bagian selatan yang masih perawan. Sangat mungkin yang dimaksud adalah hutan yang ada di kaki gunung watangan.
5. Jalan yang Berlubang
Jalan yang berlubang digambarkan dilalui oleh Rombongan Vissering. Saat menaiki kereta kuda dari Puger ke Ambulu. Jalan di antara Ambulu dan Puger jalannya masih banyak berlubang dan berdebu. Saat sampai di Ambulu di rumah Asisten Wedana, Kuda diganti yang baru untuk menarik kereta ke arah Batu Ular alias Ke Arah Watu Ulo.
Unduh Buku Een Reis Door Oost-Java Versi Terjemahan oleh Muntijo
6. Watu Ulo dengan Pasir Hitam dan Batu Bulat
Pantai Watu Ulo, sudah menarik perhatian pelancong eropa ini. Padahal wilayah tersebut masih disebut 'pedalaman' karena tidak ada orang eropa sama sekali pada waktu itu. Jauh dari akses transportasi. Tapi keindahan alamnya sudah terkenal sehingga menarik Vissering untuk mengunjunginya. Yang ditulis dalam buku kedua Vissering ini, digambarkan bahwa pasirnya hitam. Dan ada batu bulat-bulat.
| Foto Pantai di Watu Ulo dalam Buku Een Reis Door Oost-Java Karya C.M Vissering |
Sebenarnya ini di Pantia Watu Ulo bagian mana ya? Apakah di Pantai Watu Ulo yang sekarang kita kenal ada bebatuannya? Ataukan ini di Pantai yang sekarang disebut Pantai Payangan mengingat ada banyak perbukitan dan batu karang yang menjulang. Tapi karena pasirnya digambarkan hitam. Dipastikan ini bukan Pantai Papuma.
Pantai Selatan Jember sebelum Tahun 1912 sudah digambarkan juga memliki tanaman yang khas berupa pandan pantai. Dalam buku Een Reis Door Oost-Java ini, C.M Vissering menggambarkan bahwa tanaman panda dengan pohon berbuku-buku (beruas-ruas) yang semacam tanaman purba. Mungkin saking besarnya batang pandan dan akar yang menyulur panjang ke bawah. Tanaman ini sampai sekarng masih banyak di temui di Pantai Watu Ulo dan Payangan sampai Papuma di bagian kaki Gunung Watangan.
8. Harimau yang Menerkam Penduduk
Gambaran Hutan Jember yang masih alami juga tergambar dari informasi yang ditulis oleh C.M Vissering tentang pesan dari Wedono Puger yang melarang rombongan wisatawan Belanda ini bermalam di Pantai Watu Ulo karena beberapa saat sebelumnya pernah ada Penduduk yang meninggal diterkam harimau. Hal ini menggambarkan bahwa memang masih ada hutan belantara yang menjadi habitat harimau jawa di tahun itu.
Gambaran ini dijelaskan oleh Kepala Desa Batu Ular (Watu Ulo) yang menjelaskan kepada Vissering bahwa penduduk yang diterkam tersebut karena membuka lahan di hutan, tanamannya hampir panen. Karena takut panennya dicuri makan si penduduk tidur di ladang tersebut. Saat tidur di ladang itulah dia diterkam oleh harimau sampai meninggal.
Baca Kisah Selanjutnya: Pulau Nusa Baroeng Habitat Rusa yang Diburu dengan Kejam

إرسال تعليق for "Menelisik Bentang Alam Puger-Ambulu-WatuUlo Tahun 1912 Melalui Catatan Perjalanan Perempuan Eropa"
Komentar bisa berupa saran, kritik, dan tanggapan. :)