Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kurikulum Merdeka Belajar dan Penerapan Pembelajaran Proyek di SMK

 Kurikulum memang niscaya berubah. Perubahan kurikulum memang harus. Karena mengikuti perkembangan. Baik terkait isi materi pelajaran, maupun dengan teknik, metode dan muatan pelajaran yang perlu disampaikan. 

Contoh sederhana, materi tentang Tata Surya, saat saya masih SD ada sembilan planet yang mengelilingi Matahari, Pluto yang terakhir. Ternyata seiring perkembangan ilmu pengetahuan antariksa, penemua Pluto sebagai planet dibantah oleh penemuan yang lebih baru. Maka pluto dipecat, hanya ada delapan planet yang mengelilingi Matahari. 

Belum lagi ilmu sosial, terkait sejarah periodisasi presiden, misalnya. Jelas harus diperbarui per lima tahun. Karena ada pemilu. 

Jadi, Kurikulum 2013, yang sudah lebih dari tujuh tahun diterapkan memang seharusnya sudah berubah. Bukan karena Ganti Menteri ganti Kurikulum. Bukan, itu sebuah keniscayaan saja. Menteri, meskipun tidak tidak berubah, harusnya mengubah kurikulum yang tidak relevan.

Kurikulum yang sekarang sudah diterapkan disebut dengan Kurikulum Merdeka Belajar. Sebuah nama yang sangat keren. Dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya yang menggunakan angkat tahun. Misalnya Kurikulum 2013, Kurikulum 2003, Kurikulum 94, Suplemen 99. 

Merdeka Belajar pada dasarnya memerdekakan siswa dan guru dalam mememilih metode belajar serta memilih fokus pembelajaran yang harus dipelajari. Tentu saja ada batasan-batasannnya. yang intinya harus melahirkan Profil Pelajar Pancasila. 

Sesuatu yang cukup baru dalam Kurikulum Merdeka Belajar di SMK adalah adanya Pembelajaran Berbasis Proyek. Jika pada kurikulum 2013, pembelajaran berbasis proyek 'hanya' dilaksanakan dalam satu bidang studi, satu mata pelajaran. Pada kurikulum Merdeka Belajar, kegiatan 'proyek' dilaksanakan bersama-sama. Harus bersama-sama lintas mata pelajaran, dan benar-benar harus dilakukan. 

Jadi, dalam penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek, benar-benar harus dilakukan oleh siswa dan guru untuk membuat sebuah Proyek Pembelajaran Bersama-sama. Jadi, pembelajarannya tidak terpisah antara pelajaran Matematika dan Bahasa, juga pelajaran yang lainnya. 

Contoh pembelajaran Proyek yang plaing sederhana adalah Pemilihan Ketua Osis. Dalam Pemilihan Ketua Osis sudah mencakup banyak pelajaran. 

Dalam kampanye dan pidato, ada pelajaran bahasa Indonesia. Dalam rangkaian acara ada Doa dan permohonan pada Tuhan agar kegiatan lancar, ada pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Dalam pemilihan ada surat suara, desain surat suara ada pelajaran Informatika khususnya Desain Grafis. Jika sekolah memungkinkan, digunakan pemilihan secara digital, ada pembelajaran TIK. Sementara dalam kegiatan pemilihan Ketua Osis secara demokratis, itu adalah bentuk pembelajaran sejarah dan Pendidikan Kewarganegaraan. 

Satu proyek, sudah berisi pembelajaran yang komplit. Tinggal guru membimbing. Jika ada pidato yang kurang baik, adalah tugas guru bahasa Indonesia yang memperbaikinya. Jika ada proses penghitungan yang kurang tepat guru matematikalah yang memandunya. Begitu seterusnya dalam sebuah proses yang baik.  

Nah, yang wajib di SMK adalah Pembelajaran Berbasis Proyek dengan Nilai Kebekerjaan dan Berdaya. Contoh yang paling sederhana adalah pelaksaan Bazar Produk SMK.

Bazar yang dilakukan tentu harus sungguh-sungguh. Dengan bazar yang ditata betul, tertata strateginya mulai persiapan hingga target penjualannya. Jadi, dalam waktu seminggu sebulan --atau digabungkan menjadi dua minggu dalam dua bulan-- seluruh warga sekolah benar-benar menyiapkan dan melaksanakan bazar dengan baik. 

Bazar produk yang baik, bukan sekadar memamerkan produknya. Tapi juga mencapai target penjualan. Jadi, bukan hanya memamerkan produk tapi tidak ada yang membeli. Harus ada target pembeli. Dengan begitu harus dipikirkan juga cara mendatangkan massa, lokasi, dan kemasan acaranya. 

Contoh Langsung:

Misalnya di sekolah yang berbasis agama, bisa dilaksanakan pengajian ataupun festival islami, yang diadakan di lokasi strategis, bisa mendatangkan massa banyak, bisa memamerkan produk unggulan sekolah, kemudian bisa menjual produk tersebut di lokasi pameran. 

Jika sekolah negeri, misalnya dipadukan dengan Dies Natalies sekolah. Agar juga bernilai Pembelajaran Berbasis Proyek, juga diadakan pameran dan bazar untuk produk unggulan sekolah.

Bagaimana? Hendak melakukan kegiatan Proyek Pembelajaran yang bagaimana untuk menciptakan Profil Pelajar Pancasila? 

Posting Komentar untuk "Kurikulum Merdeka Belajar dan Penerapan Pembelajaran Proyek di SMK"