Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Riwayat Lomba-lomba Pitulasan: Esai Heri Priyatmoko di Jawa Pos, 18 Agustus 2022

 "... lumarhnya hadiah yang diraih dalam panjat pinang bakal dibagi oleh tim sebagai hasil kerja bareng. Bukan cuma dinikmati orang yang berada di atas."

Oleh: Heri Priyatmoko,  Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma


Tahun ini perayaan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) berbeda ketimbang dua tahun terakhir. Dua tahun lalu ibu pertiwi berkubang keperihan lantaran pagebluk memangsa ribuan nyawa. Lomba dan kegiatan yang mengundang kerumunan sementara ditiadakan. Misalnya, perhelatan panjat pinang dengan iming-iming hadiah di bagian atas diliburkan jua. 

Sejatinya panjat pinang maupun bambu yang melibatkan beberapa orang itu bukan tontonan "kemarin sore". Suguhan pengocok perut tersebut sudah ada jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka. Sebelum teks proklamasi dibacakan Soekarno didampingi Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, tepat pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00, hiburan menaiki pohon pinang telah dihelat keluarga aristokrat Mangkunegaran. Peristiwa itu terjadi seabad lampau. 

Diriwayatkan, pada 6 September 1920 putri Sri Sultan Hamengku Buwana VII bernama Gusti Raden Ayu Mursudarijah (kemudian bergelar Ratu Timur) dipersunting Pangeran Adipati Aryo Prangwadana, yang kelak berjuluk Gusti Mangkunegara VII (1916-1944). Seminggu berlalu, buah hati raja Kasultanan Yogyakarta itu diboyong ke Solo memakai kereta api ekspres. Setiba di Stasiun Balapan, raga kedua pengantin anyar tersebut diusung dengan kereta Kyai Candrakantha menuju istana terkaya di Pulau Jawa tersebut. Busana upacara adat keraton yang melilit tubuh tokoh darah biru itu membetot perhatian khalayak yang menyebut i bibir jalan. 

Sesampai di gerbang Pura Mangkunegaran, dua penumpang istimewa tersebut disambut tembakan meriam sembilan kali. Dari pendapa tersbesar di Asia Tenggara itu, gending Ketawang Pupawarna mengalun lembut dan menambah kemeriahan. 

Buah hati Mangkunegara VII, Gusti Nurul (2014) dan Partini (1986), membelah ingatan yang tersimpan dalam batok kepala. Dibeberkan, pesta bersatunya dua keluarga bangsawan  saat itu berlangsung lebih dari 3 hari 3 malam. Bukan kepalang heboh dan gayeng. Keagungan acara terpancar dari ratusan tamu yang datang, jamuan mewah, hiasan pura, serta sajian acara. Tak melulu tarian dan kenengan, panitia kali ini menghadirkan lomba memanjat pohon pinang yang telah diberi pelicin. Penonton dibuat terpingkal tatkala melihat perjuangan kolektif para pemain memanjat pinang sampai atas. 

Sekeping fakta di muka mengungkapkan bahwa lomba panjat pinang tidak berasal dari masyarakat akar rumput, tapi bermula dari lingkaran istana atau elite atas. Pasalnya, ada hadiah yang diperebutkan. Sudah barang tentu iming-iming itu dapat diwujudkan oleh lapisan sosial atas. 

Keliru jikalau panjat pinang dewasa ini sering ditafsirkan sebagai ptret kaum berduit yang tertawa di atas penderitaan wong cilik. Kian ngawur dengan interpretasi perhalatan itu menyimbolkan orang yang meraih jabatan maupun kenikmatan mesti menginjak orang di bawahnya. Padahal, lumrahnya hadiah yang didapat dalaam panjat pinang bakal dibagi oleh tim sebagai hasil kerja bareng. Bukan cuma dinikmati orang yang berada di atas. 

Penting pula saya kabarkan di sini bahwa lomba tarik tambang serta lomba lari karung tidak bisa diklaim hadir sejak negeri ini merdeka, selanjutnya dipakai untuk lomba pitulasan (tujuh belasan atau di beberapa tempat dikenal sebagai Agustusan.) Selain pnjat pinang, perayaan pernikahan Mangkunegara VII itu dimeriahkan juga dengan dua lomba tersebut. Tarik tambang membutuhkan energi besar menyusupi tubuh dan kuda-kuda (posisi kaki) yang kukuh. Sedangkan lari atau balap karung memerlukan kegesitan dan raga yang ringan guna melompat sampai garis finis.

DAlam arsip foto lawas yang terseimpat di Perpustaan Reksopustaka Mangkunegaran, ditemukan permaian balap karung melibatkan sejumlah remaja. Tampaknya merkaa bagian dari padvinder (Pramuka) binaan Mangkunegara VII. Apakah dua lomba itu tumbah dari golongan berkantong tebal? Seabad silam, unsur tambang dan karung goni untuk peralatan lomba tentu sukar dijangkau kawula alit. Di mata masyarakat kecil, tambang dan karung terbilang barang mewah. Hanya kelompok berduti yang mampu mengadakan (membeli) bahan itu. 

Lantas, permainan apa yan ghidup di tengah wong cilik tempo dulu sehingga dihadirkan pada lomba pitulasan di kemudian hari? Jenis lomba yang bisa dipeluk masyarakat lintas kelas diisyaraktan sarananya gampang ditemukan di sekitar, seperti bambu, air, binatang sawah (belut), dan tanah liat. Ambilah misal lomba egrang. Pekamus Poerwadarminta dalam Bausastra Jawa (1939) menjelaskan terminologi "egrang": pring (kayu) didokoki pancadan dianggo mlaku (bambu atau kayu yang diberi tempat memanjat untuk jalan). Tanpa harus menunggu perayaan hari kemerdekaan RI, lomba egrang diadakan demi menguji kegesitan pemain. Lomba tanpa mempersyarakan  orang bertubuh kuat itu, yang dibutuhakn adalah keseimbangan dan keprigelan. 

Silam, permainan egrang pernah disorot miring lantaran saat dipakai jalan acap melebihi kepala orang tua dan itu dinilai tidak sopan. Majalan Kajawen (1931) memuat hikayat bocah bernama Punjul bercokol di Magelang. Ia senang bermaian egrang bersama kawan-kawan seusianya. Seraya bilang "amit sewu", dia nglangkahi bapaknya yang kebetulan sama-sama  melewati gang sempit di dekat rumahnya. 

Dari kilasan cerita lama di muka, kita diingatkan bawa sebelum manusia terpapar pengaruh telepon pintar dan teknologi canggihyang celakanya menggiring ke sifat individualistis, lomba atau permainan di masal lalumenekankan segenap aspek positif. Antara lain kerja sama tim, mengontrol diri, penyesuaian diri, interaksi, empati, menaati aturan, disiplin, serta menghargai orang lain. Permaianan yang dikreasi oleh leluhur menyimpan kearifan. 

Sebagaimana tesis pemikir kebudayaan Johan Hizinga bahwa manusia adalah makhluk yang bermain ataupun suka menciptakan permainan yang bermuara pada kegembiraan. Karena itulah, perlombaaan pitulasan tidak mengejar kemeriahan saja maupaun ritual tahunan belaka. Tapi merupakan momentum penting untuk merekatkan kerukunan sosial dan memanggil pulang segenap aspek yang menubuh dalam perlombaan tradisional. 

Jujur saja, kian hari kita mengalamai krisis aneka unsur tersebut. Maka, jangan sampai terjebak pada ingar bingar perayaan HUT Kemerdekaan RI selepas pandemi menghajar.
 

Posting Komentar untuk "Riwayat Lomba-lomba Pitulasan: Esai Heri Priyatmoko di Jawa Pos, 18 Agustus 2022"