Blambangan disebut sebagai Benteng Terakhir di Pulau Jawa yang menolak takluk pada Penjajah. Memang, ingatan itu masih dirawat hingga kini dalam asal-usul Kabupaten Banyuwangi. Berbeda dengan asal-usul yang didasarkan pada Pembentukan Banyuwangi oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Banyuwangi, mengambil sudut pandang 'Benteng Terakhir' yang ada di Pulau Jawa dalam melawan penjajah.
Meskipun pada dasarnya sama saja, tahun yang digunakan adalah 1771, yaitu tahun runtuhnya Kekuatan Politik Blambangan yang dipimpin oleh Mas Rempeg Jagapati. Di tahun yang sama, setelah kekalahan mutlak Blambangan sebagai entitas politik yang menguasai wilayah, VOC kemudian membangun pemerintahan yang dipusatkan di Banyu Wangi. Yang kemudian wilayah tersebut dikenal sebagai 'Banyuwangi'.
Bartu setelah itu, Nama Banyuwangi mulai muncul di Peta, menggantikan nama wilayah yang dulunya dikenal sebagai wilayah Blambangan. Atau dalam ragam variasinya ditulis Balamboam, Balambangan, Palambuan, Balamboang, dan sebagainya.
Penulisan nama Blambangan di peta-peta eropa tersebut berdasarkan pendengaran kartografer (si pembuat peta) terhadap bunyi 'Blambangan' yang mungkin berbeda-beda.
Setelah periode 'terhapusnya' Blambangan dan Sejarahnya, yang wilayahnya dikuasai penuh oleh VOC, karena penduduknya tewas dalam 'Puputan Bayu' di bawah Pimpinan Mas Rempeg -dan sisa sisa pendukung setianya masih melakukan perlawanan yang lebih kecil di bawah pimpinan Sayu Wiwit. Juga penduduk yang tersisas lebih milih 'ngalas', menyingkir dari pada menjadi bawahan VOC, tanah Blambangan -yang akhirnya dinamai 'Banyu Wangi' diisi oleh orang-orang pendatang dari Madura dan Jawa Tengah-an.
Kajian terhadap adanya Blambangan pada mulanya melalui sudut pandang Jawa Mataraman, sehingga memunculkan kerancuan sejarah dengan adanya Tokoh 'Minak Jinggo' melalui serat 'Damar Wulan' yang sebuah novel fiksi diyakini benar-benar ada dalam sejarah sebagaimana cerita dalam serat. Sementara banyak ilmuan dan sejarah yang meyakini bahwa Minak Jinggo adalah sebuah rekaan semata. Begitu juga dengan berbagai macam 'Petilasan' yang dikaitkan dengan 'Minak Jinggo' adalah sebuah 'kesalahan' sejarah.
Sebagaimana masih diyakini bahwa 'umpak songo' adalah salah satu Kratonnya Minak Jinggo, itu adalah sebuah kesalahan. Sudah banyak dibahas tentang itu oleh para Sejarawan Blambangan yang dipublikasikan melalui berbagai macam saluran. Beberapa di antaranya adalah Balambangan.id, Blambangan.id.
Lalu, bagaimana sebenarnya 'Blambangan' di mata eropa? Benarkah sebesar itu? Kita bisa melihat dala peta sezaman ketika 'Blambangan' benar-benar masih eksis sebagai wilayah berdaulat dalam gambaran Peta yang dibuat oleh Kartografer (ahli kartografi, pembuat peta) yang masih menempatkan 'Kerajaan Blambangan' dengan berbagai nama penulisannya, di ujung timur Pulau Jawa.
Peta Blambangan: Kaart van het eiland Java, 1596
 |
| Kaart van het eiland Java, 1596 |
Dalam peta anonim koleksi Rijksmuseum.nl tersebut, Pulau Jawa kelihatan 'gemuk', tapi sudah menggambarkan adanya lengkungan di Pantai Selatan Jawa. Juga sudah ada lokasi 'Kerajaan Mataram' yang ada di tengah pulau Jawa dekat dengan pesisir selatan.
Blambangan, digambarkan ada di ujung timur Pulau Jawa yang disebut 'IAVA MAJOR' alias Pulau Jawa Besar. Ada pulau Iava Minor alias Jawa Kecil yang sekarang kita kenal dengan nama Kepulauan Nusa Tenggara.
 |
| Peta Blambangan |
Pada Peta IAVA MAJOR, Blambangan ditulis Balambuam, yang terletak di utara Sungai/Muara dekat dengan gunung Solpher bergh. Yang juga cukup menarik, laut selat yang sekarang dikenal dengan nama 'Selat Bali' pada peta tersebut teridentifikasi sebagai 'Straet Balambuam', yang bisa ditafsir bahwa selat tersebut dalam penguasaan Kerajaan Blambangan.
Identifikasi Solpher Bergh, secara sederhana dapat diartikan Sulfur Gunung, atau Gunung Sulfur, atau Gunung Belerang. Yang dimaksud tentu Gunung Ijen, yang terkenal sebagai penghasil Belerang di Ujung Timur Jawa. Nah, Keraton Kerajaan Blambangan ada di sebelah tenggara Gunung Ijen tersebut.
Blambangan dalam Peta Pulau Jawa Tahun 1614
 |
| Blambangan di Ujung Timur Iauva Insula (Pulau Jawa) diapit 'Penaruca' dan 'Fidayda' | Peta Koleksi Rijkmuseum |
Dalam Peta yang terbit di eropa di waktu yang bersamaan dengan berkuasanya Sultan Agung sebagai Raja Mataram Islam, ini Kraton Mataram di tengah-tengah pulau jawa sudah terdapat dalam peta. Namun, kota-kota atau wilayah-wilayah 'penting' yang tertulis di peta sebatas Kerajaan/Wilayah/Negara yang ada di Pesisir. Misalnya Pasuruan, Gresik, Panarukan, dan tentu saja Blambangan. Wilayah yang lebih masuk ke dalam 'mungkin tidak sekuat mataram' tidak ditulis dalam peta tersebut. Yang cukup menarik adalah, dalam penggambaran peta tersebut, Madura dan Makasar seoalah-olah merupakan pulau yang sama besarnya.
Blambangan ditulis Pallabao dalam Peta Selat Malaka 1654
Dalam peta yang dibuat pada tahun 1654, yang menggambarkan wilyah sekitar selat malaka. Dalam peta ini, digambarkan pulau Jawa secara utuh, sebagian pulau sumatera, sebagian pulau kalimantan, dan beberapa pulau kecil di sebelah timur pulau jawa.
Menariknya, dalam peta pulau jawa yang sudah digambarkan penuh tersebut nama nama wilayah yang dituliskan di peta hanya wilayah pesisir yang memiliki pelabuhan penting di masa itu..
 |
| Peta Pulau Jawa dan beberapa Pulau di sekitarnya | Peta Tahun 1654 |
Peta tersebut merupakan salah satu koleksi digital dari Rijksmuseum.nl dengan atribusi Pareira dos Reis, Andre. Dalam peta tersebut, pulau jawa digambarkan memanjang mendekati bentuk aslinya tidak lagi 'gemuk' seperti peta tahun 1614. Namun masih memliki kemiripan: wilayah pantai selatan semuanya dibatasi dengan gunung. Menandakan belum dijelajahi oleh pelaut-pelaut eropa yang membuat peta di abat 17.
 |
| Blambangan ditulis Palla bao, di ujung timur pulau Jawa Peta Tahun 1654 |
Si penulis peta, telah menambahkan Blambangan yang ditulis 'Palla Bao', dalam peta tertulis terbalik. Tentu saja ini adalah bentuk penulisan lain dari pendengaran orang eropa si penulis peta untuk nama tempat yang saat ini dikenal dengan nama Blambangan.
Yang cukup menarik juga dalam peta tersebut, selain berbatasan dengan selat bali dan bentuk ujung tenggara pulau jawa sudah mulai menunjukkan bentuk menyerpuai aslinya. Bahwa pusat pemerintahan Blambangan 'Palla Bao' hyang ada di sebuah teluk besar.
Pada tahun 1654, kerajaan jawa Mataram dipimpin oleh Amangkurat I, anak Sultan Agung. Namun, dalam peta tersebut tidak disebut wilayah atau pusat pemerintahan Mataram yang sebenarnya masih berada di tengah-tengah pulau Jawa. Karena fokus peta ada di wilayah peisisir. Tidak hanya spesifik untuk Jawa. Tapi seluruh wilayah lautan dan pulau di sekitarnya.
Blambangan dalam Peta 'Maps of Java Sea' Tahun 1673
Dalam peta karya Kartografer Belanda, Joan Bleu Junior, yang menunjukkan peta Laut Jawa dan pulau-pulau di sekitarnya, Blambangan masih dituliskan di peta. Di peta tersebut, Blambangan tertulis 'Balangbangan'
 |
| Peta Pulau Jawa bagian timur oleh Joan Bleu Junior tahun 1673 |
Dalam peta tersebut, wilayah selatan pulau jawa sudah diketahui bentuk pantainya. Artinya jika dibandingkan dengan peta sebelumnya 20 tahun kemudian, wilayah pesisir selatan sudah dikunjungi oleh pelaut-pelaut eropa yang melakukan survei pembuatan peta.
Selat Bali masih Dikuasasi Blambangan dalam Peta 1710
 |
| Peta Kepulauan Sunda, meliputi 3 pulau utama yaitu Sumatera, Jawa, dan Borneo (Kalimantan) |
Dalam peta yang full color terbitan antara tahun 1700-1710 tersebut, Pulau Jawa diwarnai kuning dengan fakta yang cukup menarik bahwa selain menyerupai bentuk aslinya, dalam peta tersbut selat antara Pulau Jawa dan Pulau Bali, yang sekarang dikenal dengan nama Selat Bali, dulunya disebut sebagai 'Selat Blambangan' atau tertulis 'de Esterde Palambuan' Meskipun adanya ketidak konsistenan penulisan 'Balambuan' sebagai nama wilayah di ujung timur jawa. Namuna dalam peta kuno tersebut, tentu yang dimaksud adalah sama-sama Blambangan.
Peta Blambangan di Kaart van het Eiland Java en Madura karya Isaac de Graaf 1690-1743
Isaac de Graaf adalah Kartografer VOC yang bertugas antara 1705-1743. Tapi sebelum tahun 1705, Issac de Graaf merupakan ahli Kartografi yang memetekan Afrika dan Hindia Belanda dengan gaji dari VOC. Jadi Peta berikut ini diidentifikasi berdasarkan pemetaan antara tahun 1690-1743.
 |
| Peta Pulau Jawa: Java Karya Isaac de Graaf | |
Dalam peta tersebut, fokus informasi tentang pulau jawa yang lebih detail terdapat pada bagian tengah, Pulau Jawa. Bagian ujung barat masih dalam kuasa Kerajaan Banten. Masih belum disurvei dan digambarkan dalam peta secara lengkap. Jadi seolah-olah masih terlihat kosong. Hanya ada pembagian nama wilayah.
Blambangan, dalamp peta tersebut, merupakan Negara tersendiri dengan penulisan 'Stad Balamboang' yang digambarkan Kratonnya atau Pusat Pemerintahannya ada di sebelah selatan sungai/muara sungai. Dalam Peta tersebut, juga ada atribusi tambahan 'District Palamboangan', maksudknya Distrik Blambangan yang berbatasan dengan Distrik Poeger (Puger).
Pembagian ini tentu berdasarkan pembagiaan administratif VOC, mungkin pasca Perjanjian Giyanti yang membatasi wilayah Kerajaan Mataram sekitar Jawa Tengah bagian selatan saja. Ujung Timur Pulau Jawa sudah diakui milik VOC. Tapi di satu sisi masih ada Kerajaan Blambangan yang eksis dengan Kratonnya.
 |
| Pusat Kerajaan Blambangan dalam Peta Pulau Jawa Isaac de Graaf |
Dalam versi lain peta karya Isaac de Graaf, sepertinya dari era yang lebih tua, mengingat dalam Peta tersebut masih belum ada pembagian distrik/wilayah/provinsi di ujung timur Jawa Timur. Berikut ini peta Pulau Jawa dari tahun 1700an awal yang masih menggambarkan adanya wilayah Balambangan.
 |
| Peta Pulau Jawa Tahun 1700an Karya Isaac de Graaf |
Pada peta tersebut, Blambangan yang ditulis Balangbangan, merupakan wilayah di ujung timur pulau Jawa. Balangbangan pada peta tersebut berada di selatan sungai/muara dan terletak di wilayah peisisir timur. Berada di tepi selat bali sekarang.
 |
| Balangbangan Wilayah di Ujung Timur Pulau Jawa | Peta Isaac de Graaf |
Karena masih dalam rangka pemetaan awal oleh Isaac de Graaf, yang bisa diientifikasi hanya baigan pesisir pantai. Wilayah yang masusk agak jauh ke daratan masih belum disurvei oleh kartografernya. Dua versi Peta Pulau Jawa, baik yang lebih tua dari Issac de Graaf mengakui bahwa Blambangan bukan sekadar nama wilayah. Blambangan adalah eksistensi sebuah pemerintahan dan kedaulatan. Intinya, di saat Kartografer ini membuat peta, kerjaan Blambangan masih eksis.
Blambangan, sebagai sebuah entitas politik yang berdaulat memang ada dan diakui oleh kerajaan dan bangsa-bangsa lain. Sebelum akhirnya (mungkin) perpecahan internal memengaruhi kekuatannya. Bukan VOC yang membuat Kerajaan Blambangan sepenuhnya terhapus oleh sejarah. Tapi kegigihannya dalam mempertahankan harga diri yang membuatnya memilih bertarung habis-habisan dalam Puputan Bayu, sebagai benteng terakhir Kerajaan Blambangan.
Blambangan dan Puger Bertetangga pada Peta Pulau Jawa Tahun 1753
Peta ini diterbitkan ketika di Mataram, selaku pusat tanah jawa sedang berkecamuk perang suksesi. Perebutan kuasa Mataram antara Susuhunan Pakubuwono yang berkoalisi dengan VOC dengan Pangeran Mangkubumi yang berkoalisi dengan Raden Mas Said alias Pangeran Samber Nyawa.
 |
Peta Pulau Jawa Tahun 1753, dengan pembagian Provinsi-Provinsi (Kabupaten)
|
Peta tersebut terbit tahun 1753, artinya setahun sebelum Perjanjian Damai yang akhirnya membagi Wilayah Kerajaan Jawa menjadi dua kerajaan yaitu Surakarta yang kemudian dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwono, dan Ngayogyokarto yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubowono, yang lebih dikenal dengan perjanjian Giyanti. Pada tahun 1754.
Menariknya, dalam peta tersebut, Blambangan, dituliskan sebagai salah satu Province (Kabupaten) wilayah Bawahan dari Mataram.
 |
| Pembagian Wilayah Timur Pulau Jawa di akhir masa Kerajaan Mataram Islam |
Menjadi cukup menarik bahwa wilayah-wilayah ujung timur, yang disebut sebagai 'Pesisir Timur' oleh VOC dibagi ke dalam empat wilayah/Kadipaten/Kabupaten yaitu Province de Passaroewan (Pasuruan); Prov. de Panaroekan (Panarukan) yang sekarang menjadi Situbondo; Prove de Poegar (yang sekarang wilayahnya meliputi Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember, serta Province de Balamboang, tentung maksudnya adalah Kadipaten Blambangan yang sekarang wilayahnya meliputi Kabupaten Banyuwangi.
Posting Komentar untuk "Peta Blambangan dari Masa ke Masa dalam Peta Kuno Bangsa Eropa"
Komentar bisa berupa saran, kritik, dan tanggapan. :)