Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Berita Bencana Masa Lalu di Jember | Angin Kencang di Afdeling Djember Tahun 1906

Wilayah Jember memang dikenal beberapa kali diterjang bencana angin kencang. Dengan berbagai jenis macam anginnya. Ada yang sekadar angin kencang, puting beliung, atau angin ribut. Yang terbaru, di Tahun 2026 ini, terjadi bencana angin kencang di Wilayah Jember selatan. Khusunya di Kecamatan Wuluhan yang sampai menerbangkan gudang pengeringan tembakau dan merusak beberapa rumah warga. 

120 tahun yang lalu, juga pernah terjadi bencana serupa. Bahkan tidak hanya menerpa satu wilayah kecamatan. Tapi bahkan menerpa beberapa wilayah distrik (kecamatan di masa lalu) di wilayah Jember tengah hingga utara. 

Berita bencana angin kencang di Jember pada masa lalu itu tercatat dalam berita koran yang terbit tanggal 14 November 1906. Sebagaimana diberitakan dalam "The news of the day for the Dutch East Indies"

Kliping Berita Koran yang menggambarkan kerusakan dan korban jiwa Angin Kencang di Jember Tahun 1906

Sara tekstual, jika diterjemahkan berita tersebut mungkin begini:

Teks yang Anda unggah adalah kliping koran berbahasa Belanda lama yang melaporkan tentang bencana angin kencang di wilayah Karesidenan Besoeki (sekarang wilayah Jember dan sekitarnya).

Berikut adalah terjemahan teks tersebut secara apa adanya:

---

Angin Kencang

Residen Besoeki menginformasikan bahwa pada sore hari tanggal 19 Oktober yang lalu, akibat angin kencang di sub-distrik Djatiroto, distrik Tanggoel, afdeeling Djember, beberapa pohon peneduh yang berdiri di sepanjang jalan dinas (heerendienstwegen) telah tumbang. Di desa Djatiroto, yang berada di bawah sub-distrik tersebut, juga runtuh: 9 rumah pribumi, 1 dapur, 1 rumah ibadah, dan 1 warung; perkiraan kerugian f110,80 gulden.

Bangunan tambahan dari pasanggrahan (pesanggrahan/penginapan) di Djatiroto mengalami kerusakan akibat tertimpa pohon yang tumbang.

Di desa Soetji distrik Rambipoedji, afdeeling Djember, pada tanggal 20 Oktober yang lalu, 5 rumah pribumi dan 1 dapur roboh; perkiraan kerugian f 80.= gulden.

Pada tanggal 23 Oktober yang lalu, akibat angin kencang telah runtuh:

Di desa Antirogo, distrik dan afdeeling Djember, 3 rumah pribumi; perkiraan kerugian f 95 gulden, serta 11 ruangan dari sebuah gudang pengering berukuran 19 ruangan, yang terletak di dusun Djamboan, Kaliwining, yang termasuk dalam desa Antirogo tersebut di atas, dan merupakan milik Cultuur Maatschappij Djelboek;

Di desa Nogosari, distrik Rambipoedji, sebuah gudang pengering milik Amsterdam-Besoeki-Tabak Maatschappij, berukuran 20 ruangan; dan di dusun Sodoong, yang termasuk dalam desa Djatian, distrik Soekokerto, 2 buah gudang pengering milik Amsterdam Besoeki-Tabak Maatschappij, masing-masing berukuran 15 ruangan.

Akibat tumbangnya sebatang pohon kelapa menimpa rumah tinggal seorang pribumi bernama Pa Masroedin di desa Djatian tersebut di atas, rumah ini runtuh dan mengakibatkan Pa Masroedin tewas. Tidak ada kecelakaan lainnya yang terjadi.

---

Fakta menarik dari berita tahun 1906 di Afdeling Djember tersebut bagi pembaca pada masa kini (tulisan di blog ini ditulis tanggal 14 Maret 2026) adalah sebagai berikut:

1. Distrik Djatiroto --yang sekarang menjadi wilayah Kabupaten Lumajang, secara administratif pernah menjadi bagian dari Kecamatan Tanggul. Disebutkan dalam berita bahwa Desa Djatiroto di Subdistrik (onderdistrik) Djatiroto di Distrik Tanggoel.  Juga ada fakta bahwa jalan-jalan dinas (jalan negara) memang sengaja ditanami tanaman peneduh. Hingga saat ini di beberapa wilayah Jalan Kabupaten dan Jalan Provinsi, masih ditemui tanaman pohon asam. Mungkin pohon itu sudah ditanam sejak era itu dan pernah ada yang tumbang saat angin kencang. 

2. Distrik atau Onderdistrik atau Sub-Distrik adalah istilah yang sekarang kita sebut dengan 'kecamatan'. Berdasarkan berit tersebut, kecamatan-kecamatan yang berusia lebih dari 120 tahun yang sudah disebutkan dalam berita tersebut adalah:
a. Rambipoedji
b. Tanggoel
c. Djatiroto (sekrang bagian dari Kabupaten Lumajang)
d. Djember (dulu ada Distrik Djember, salah satu desanya adalah Antirogo). 
e. Soekokerta (Distrik ini di kemudian hari dihapus dan ganti nama menjadi Distrik Kalisat), Nama Soekokerta tersisa sebagai nama salah satu Desa di Timur Laut Jember. 

3. Nama-nama Desa yang sudah ada dan ditulis dalam berita tersebut antara lain:
a. Desa Djatiroto di Djatiroto. 
b. Desa Antirogo Jember.
c. Desa Nogosari Rambipuji
d. Desa Djatian
Nama-nama desa tersebut masih eksis hingga saat ini. Jika berita ini ditulis tahun 1906, artinya desa-desa tersebut usianya jauh lebih tua dari 120 tahun yang lalu. Karena di beberapa desa tersebut sudah ada bangunan yang menunjukkan kemajuan ekonomi meliputi pesanggrahan (penginapan) kalau sekrang bisa disebut villa/hotel. 

4. Terdapat perusahan perkebunan yang ada di desa-desa di wilayah Jember bagian utara. Yang bangunan gudang tembakaunya (gudang pengering) menjadi korban rusak bencana angin kencang. Nama-nama perusahan tersebut antara lain yang tertulis dalam berita adalah:
a. Cultuur Maatschappij Djelboek; (maskapai/perusahaan perkebunan Djelbuk);
b. Amsterdam Besoeki-Tabak Maatschappij, (maskapai/perusahanan tembakau Amsterdam Besoeki)

5. Nama orang pribumi sudah mengandung Unsur agama Islam dan pengaruh bahasa Arab. Terbukti dalam kutipan berita yang mengabarkan bahwa satu-satunya korban tewas dalam bencana Angin Kencang di Afdeling Djember Tahun 1906 adalah Pa Masroedin. Nama yang identik dengan orang-orang Djember yang khas dengan kebiasaan orang Madura dengan menambahkan 'Pak/P./Pa' di depan nama. Masrudin, nama orang Jawa/Madura dengan bahasa Arab. Masru-Addin. Bahkan sebelum NU dan Muhammadiyah lahir, orang Jember sudah Islam (dilihat dari namanya). 

Baca Juga informasi menarik mengenai Djember dan Sejarahnya serta bahasanya dalam Blog ini.


Posting Komentar untuk "Berita Bencana Masa Lalu di Jember | Angin Kencang di Afdeling Djember Tahun 1906"