Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Inilah Arti dan Asal-usul Nama Ajung di Jember yang Berasal dari Nama Bunga

Nama Ajung di Kabupaten Jember, merujuk pada nama dua desa. Desa Ajung di Kecamatan Kalisat, dan Desa Ajung di Kecamatan Ajung. Kedua desa tersebut memang menggunakan nama yang persis, Ajung. 

Berdasarkan akun resmi PPID Desa Ajung, asal-usul nama Ajung berasal dari kata 'Pajung' (bahasa Madura) yang berarti 'Payung'. Tentu ini adalah asal-usul yang lebih dekat ke otak-atik-gathuk. Alias asal-usul nama Ajung yang berasal dari perkiraan. Lebih-lebih, nama Ajung yang disebut berasal dari kata 'Pajung' alias 'Payung' dimaknai sebagai 'memayungi kepentingan warganya'. Makna yang terlalu kuasa sentris. 

Pemaknaan asal-usul nama Ajung dari Pajung tersebut terlalu bertumpu pada sisi 'penguasa' atau pemimpin. 

Padahal nama-nama tempat, baik nama desa, nama dusun, ataupun nama wilayah di seluruh Jember lebih identik dengan tumbuhan atau kondisi geografis setempat. Ada nama desa Mangaran, Klompangan (=klumpangan), Cangkring, dan Mangli misalnya. Semuanya berasal dari nama tumbuhan yang banyak ditemukan di wilayah tersebut. 

Coba saja searching di google dengan kata Kunci Pohon Cangkring, Pohon Mangli, Pohon Mangar, Pohon Kelumpang, maka akan ditemukan penjelasan mengenai tumbuhan dan pohon yang menjadi asal-usulnya. 

Bertolak dari pemikiran tersebut, Ajung hampir bisa dipastikan juga berasal dari nama pohon atau tumbuhan. 

Lalu, bagaiamna dengan asal-usul nama Ajung? Apa arti nama Ajung?

Untuk mengetahui asal-usul nama Ajung salah satu caranya adalah dengan mencari asal usul dan ejaan awalnya dalam dokumen tertulis. Dalam tulisan ini, asumsi --sekali lagi asumsi-- nama Ajung berasal dari nama tumbuhan. Jenis tumbuhan perdu berbunga berwarna kuning. 

Ajung adalah bahasa Madura untuk menyebut tanaman yang juga dikenal sebagai Ketapang Badak atau Ketapang Kerbau. 

Sebagai bukti bahwa asal-usul nama Ajung merupakan jenis tumbuhan bisa dirunut dari dokumen-dokumen tertulis era pemerintah kolonial Belanda berikut ini. Langkah pertama, menelusur penulisan ejaan Ajung dalam ejaan lama. Kedua mencari padanan dan penggunaan istilah tersebut selai yang merujuk pada nama tempat (desa Ajung). 

Ejaan lama Ajung bukan Ajoeng bukan pula Adjoeng. Ejaan lama untuk nama desa Ajung adalah ADJOONG. Penulisan dengan dua huruf /o/ memang merujuk pada bunyi /u/ dalam tata bahasa Indonesia modern. Dalam ejaan melayu di masa kolonial Belanda, juga merujuk pada bunyi /u/ tinggi [U] yaitu bunyi /u/ yang cenderung ke bunyi [O]. 

Kliping Koran 'Java Bode' Tanggal 08 September 1892 | Sumber: delpher.nl


Dalam koran berbahasa belanda tersebut, tulisan Ajung (ditulis 'Adjoong') tertulis tiga kali.

1) tabaksondernemingen Adjoong en Kantjil = Perusahaan Tembakau Ajung dan Kancil

2) tabakondernemer C te Adjoong = Pemilik perusahaan (berinisial) C di Ajung

3) wonende te Adjoong, district Djember = Bertempat tinggal di Ajung, distrik Jember.


Jadi, yang dimaksud dengan Ajung (yang ditulis: Adjoong) dalam tulisan tersebut adalah Desa Ajung di Distrik Jember. Jelas bahwa pada tahun 1892 sudah ada desa yang bernama Ajung di Jember. Entah Ajung yang Kalisat atau Ajung yang Kecamatan Ajung. Yang jelas, nama Ajung dulu ditulis dengan ejaan Adjoong. Inilah fakta yang pertama. 

Selanjutnya untuk mengetahui apa arti 'Adjoong' dapat kita telusur melalui penulisan dengan ejaan di zaman pemerintah kolonial Belanda tersebut. 

Kliping Koran Makassarsch handels-blad Tanggal 05-07-1872 | Sumber: delpher.nl

Potongan koran yang terbit di akhir abad ke-19 tersebut, dijelaskan tentang tanaman Cassia glauca Lox (Acucia alota) yang bermanfaat menyembuhkan penyakit kuta. Yang cukup menarik adalah penjelasan dalam paragraf kedua dari terakhir: 

Deze plant groet op voclitige plaatsen, en heeft geele en oranje bloemen --bekend onder den naam te Batavia van 'ketepeng badak'-- op Java van 'ketepeng kerbo, en onder de Madureezen van Adjoong-adjoong. 

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi:

Tumbuhan ini biasanya tumbuh di area yang lembap serta memiliki bunga berwarna kuning dan oranye. Di Batavia tumbuhan ini dikenal dengan nama ketepeng badak, di tanah Jawa dinamai ketepeng kerbo (ketepeng kerbau), sedangkan masyarakat Madura menyebutnya Adjoong-adjoong.

Jadi, Adjoong-adjoong adalah nama Madura untuk tumbuhan yang bernama Ketepeng Badak atau Ketepeng Kerbau. Maka terbuktilah bahwa nama Ajung di Jember --yang mayoritas penduduknya adalah penutur bahasa Madura, sangat mungkin berasal dari nama tumbuhan. Nama wilayah yang ditumbuhi banyak Adjoong-adjoong maka disebut dengan Desa Adjoong atau Kampung Adjoong. 

Asal-usul Ajung bukan dari berasal dari kata Pajung atau Payung atau Memayungi. 

Asal-usul nama Ajung yang berasal dari nama tumbuhan sangat relevan dengan nama-nama desa di sekitar Ajung. Baik ajung yang ada di Kalisat, yang berdekatan dengan desa Pelalangan (dari kata 'alang-alang'), Glagahwero (dari kata Glagah) salah satu jenis rumput. Dusun Jambuan (Plalangan) jelas berasal dari pohon Jambu, dan sebagainya. 

Maka, asal-usul nama Ajung yang berasal jenis tumbuhan yang disebut Adjoong-adjoong atau ajung-ajung memiliki dasar yang sangat kuat. 

Lalu, bagaimana tumbuhan Ajung itu?

Bisa kita cari dari nama latinnya atau dari nama Ketapang Badak yang dikenal di Batavia tentu menjadi bahasa yang lebih umum digunakan. 

Tangkapan Layar Ketepeng Cina | Wikipedia

Berdasarkan penjelasan dalam laman Wikipedia, nama Ketepeng Kerbau (Jawa) sama dengan Ketepeng Badak (Sunda) dan Acon-acon (Madura). Jadi, nama lain yang dikenal dalam bahasa Madura untuk bungan Adjoong-adjoong atau Ajung-ajung adalah Acon-acon. 

Yang cukup menarik adalah, Ketepeng juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengobati penyakit luar. Sama dengan informasi dari dari kutipan koran yang ditulis oleh J.A. Caspersz yang menyebutkan bahwa Ketepeng Badak bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit pada kuda. 

(mun)



Posting Komentar untuk "Inilah Arti dan Asal-usul Nama Ajung di Jember yang Berasal dari Nama Bunga"