Rondo Bolong dan Penafsiran Alquran | Asal Usul Janda Bolong dan Pemaknaannya
Rondo Bolong dan Penafsiran Alquran | Asal-usul Kata Rondo Bolong dan Janda Bolong Serta Cara Pemaknaannya
Dilingkungan rumah siapa yang sekarang tidak ada tanaman
hias rondo bolong? Mungkin rumah anda tidak ada tanaman ini. Tapi mungkin dapat
dipastikan rumah-rumah tetangga Anda ada yang punya.
Tanaman hias merambat dengan daun berlubang ini memang
sedang diminati banyak orang. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi
Janda Bolong. Memang dalam bahasa Jawa, rondo artinya janda alias
widow dalam bahasa Inggris.
Sudah banyak yang membahas bahwa sebenarnya rondo bolong itu bukan berasal dari kata
rondo. Tapi berasal dari tiga kata, ron do bolong. Ron adalah bentuk bahasa krama dari kata godong
yang artinya daun.Kemudian do adalah bentuk pemendekan dari
kata podo yang memiliki arti masing-masing atau semua. Bolong artinya
berlubang.
Dalam proses pengindonesiannya, ron do bolong yang di
sangka rondo bolong, diterjemahkan menjadi janda bolong. Rondo
diterjemahkan menjadi janda. Sementara kata bolong tidak
menggunakan bentuk bakunya: berlubang.Bolong juga sudah diserap ke dalam
bahasa Indonesia.
Seakan-akan terjemahan rondo bolong menjadi janda
bolong adalah benar. Padahal secara substansial berbeda. Sangat
berbeda. Janda kok bolong. Istilah yang
sudah banyak diketahui adalah sundel bolong. Salah satu spesies hantu
yang ada di Indonesia, yang identik dengan minum bakso langsung dari dandang-nya
kemudian mengucur dari belakang punggungnya.
Nah, proses penerjemahan rondo bolong menjadi janda
bolong ini adalah bentuk missing link. Tautan yang salah. Penautan
yang menjadikan salah konsep meskipun merujuk pada benda yang sama.
Namun, bisa memunculkan salah tafsir. Bisa bahaya.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, dalam upaya
menerjemahkan suatu bahasa ke dalam bahasa lain harus memahami secara penuh
keduanya. Bahasa sumber dan bahasa tujuan penerjemahan. Bukan sekadar makna
kata per kata, tapi juga seluruh perangkat pemahaman kebahasaan yang berkaitan
juga dengan kebudayaannya.
Dalam kasus ron do bolong ini misalnya harus
diketahui bahwa godong bukan satu-satunya istilah dalam menyebut bagian
tumbuhan yang menjadi tempat proses fotosintesis. Maka di sini harus diketahui kebudayaan
dan unggah-ungguh Jawa pada ujungnya berkaitan dengan adanya unggah-ungguh
berbahasa berupa adanya Jawa Ngoko, Krama Madya, Krama Alus.
Penggunaan kata do pada kata do bolong sebenarnya
tidak dapat dipisahkan. Karena pemendekan bentuk podo menjadi do hanya bisa jika melekat pada kata kerja.
Misalnya:
arek-arek do turu: arek-arek podo turu (anak-anak
sudah tidur semua).
Ndang budal, undangane wes do teko: Ndang budal,
undangane wes podo teko (Segera berangkat, undangan sudah banyak yang
datang).
Lha, sama-sama kata do yang berasal dari pemendekan
kata podo (padha) bisa memiliki makna semua sementara di
satu sisi, juga memiliki makna banyak yang. Harus benar-benar paham agar
maknanya tidak salah.
Belum lagi kata podo yang artinya sama. Misalnya
dalam kalimat: Arek iku duwure wis podo bapake. Kata podo pada
kalimat tersebut memiliki makna sama atau setara. Sudah sangat
jauh dengan makna kata podo yang dibahas sebelumnya.
Jadi, nama ron do bolong adalah penamaan secara
deskriptif, bahwa tanaman yang semua daunnya berlubang. Dengan mengetahui arti
namanya yang demikian mungkin gegap gempitanya jadi tidak terlalu.
Sehingga jadi biasa saja. Tidak ada glorifikasi
atau mistifikasi nama janda pada tanaman.
Lalu, apa hubungannya dengan penafsiran Alquran?
Begini, bayangkan dalam memaknai ron do bolong yang
awalnya adalah tanaman yang semua daunnya berlubang menjadi janda
bolong adalah bentuk kesalahan. Padahal bahasa Jawa juga menjadi sumber
bagi pembentukan istilah bahasa Indonesia. Penerjemahannya bisa meleset.
Meskipun masih merujuk pada benda yang sama, tapi sudah memiliki penafsiran dan
pemahaman yang berbeda jauh.
Bayangkan jika yang diterjemahkan itu adalah Alquran, yang
berasal dari bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara letterlijk.
Mungkin benar bahasanya begitu. Tapi bisa jadi salah maksudnya.
Yang begitu dekat Jawa ke Indonesia saja bisa salah.
Apalagi yang jauh secara budaya, geografis, dan zaman. Alquran diturunkan di
Mekah-Madinah 1400-an tahun yang lalu. Bahasanya Arab yang identik dengan
budaya Arab. Harus dipahami oleh umat
Islam di Indonesia dengan seluruh pelosoknya. Tidak bisa sebatas terjemah.
Harus tafsir. Khawatir salah.
Lha kan, ribet. Ya gak juga. Lha sudah ada para mufassir
yang telah kredibel. Yang telah diakui oleh para ulama yang jelas jalur
keilmuannya. Biar tidak terjadi masalah
seperi rondo bolong menjadi janda bolong. Mungkin terjemahan yang
lebih pas adalah tadabang alias tanaman daun berlubang. Mungkin.
Posting Komentar untuk " Rondo Bolong dan Penafsiran Alquran | Asal Usul Janda Bolong dan Pemaknaannya"
Komentar bisa berupa saran, kritik, dan tanggapan. :)