Kontaminasi Bahasa | Pengertian, Jenis, dan Alasan Mengapa Masih Terjadi Kontaminasi
Kontaminasi Bahasa | Pengertian, Contoh, dan Alasan Mengapa Masih Terjadi Kontaminasi
Kontaminasi memiliki arti dasar ‘pengotoran’. Memiliki
kemiripan arti dengan ‘pencemaran’. Yang awalnya murni tidak lagi murni.
Pengotoran memiliki arti membuat sesuatu yang lebih buruk. Sementara dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kontaminasi memiliki tiga penjelasan
arti di tiga bidang yang berbeda.
Pengertian Kontaminasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah:
- n pengotoran; pencemaran (khususnya karena kemasukan unsur luar)
- n Ling penggabungan beberapa bentuk (kata, frasa, dan sebagainya) yang menimbulkan
bentuk baru yang tidak lazim
- n Psi efek distorsi dari fakta eksternal yang tidak terkontrol
Arti yang pertama, adalah arti kata kontaminasi secara umum.
Arti yang kedua, adalah istilah dalam linguistik, yang dimaksud adalah Kontaminasi
Bahasa. Sementara dalam pengertian yang ketiga, adalah pengertian kontaminasi
dalam bidang ilmu psikologi.
Dari pengertian kontaminasi secara bahasa, yang
berkaitan dengan kontaminasi bahasa, memiliki arti penggabungan
beberapa bentuk kata, maupun frasa, ataupun kaidah bahasa lainnya yang
menimbulkan bentuk baru yang tidak lazim.
Dalam pengertian di dalam kamus, kata yang digunakan adalah tidak
lazim, alih-alih menggunakan kata salah. Secara kaidah kebahasaan, kontaminasi
menyebabkan kesalahan. Namun, karena kamus tidak berisi benar-salah, maka
kata yang digunakan adalah tidak lazim.
Pengertian Kontaminasi Bahasa
Secara harfiah, pengertian kontaminasi adalah pencampuran.
Maka, secara istilah pun kontaminasi bahasa pada dasarnya adalah
percampuran. Percampuran antara beberapa bentuk kata, bentuk frasa, kaidah
kalimat yang berbeda ke dalam satu bentuk baru yang tidak tepat.
Jadi, kontaminasi bahasa bisa karena adanya penggabungan
pembentukan kata, frasa, kalimat, dalam satu bahasa, atau karena adanya
penggabungan dari dua bahasa yang berbeda.
Kontaminasi sebagai Gejala Bahasa mengindikasikan
bahwa adanya ‘kemampuan berbahasa’ yang tidak maksimal. Seorang pengguna
bahasa, akan dipengaruhi oleh kemampuannya menggunakan bahasa itu. Jika dia
adalah penutur bahasa lain, misalnya bahasa daerah, maka bahasa daerah tersebut
akan mendorong adanya kontaminasi dalam bahasa yang digunakan.
Kontaminasi bahasa
tidak hanya terjadi dalam bentuk bahasa tulis, bahkan akan lebih banyak
ditemukan dalam bentuk percakapan.
Lebih Rinci Tentang Pengertian Kontaminasi Bahasa dan Jenis-Jenisnya
Secara sederhana, kontaminasi bahasa memiliki arti kekacauan
struktur bahasa baik dalam penggunaan kata, pembentukan frasa, penyusunan
kalimat, maupun rangkaian kalimat yang tidak tepat berdasarkan Kaidah bahasa
Indonesia.
Berdasarkan pengertian di atas, maka jenis-jenis kontaminasi
dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi empat. Keempat jenis kontaminasi
bahasa Indonesia adalah sebagai berikut;
a. Kontaminasi bentukan kata
b. Kontaminasi frasa
c. Kontaminasi Kalimat
Penjelasan masing-masing jenis kontaminasi dalam bahasa
Indonesia
Kontaminasi Kata
Yang dimaksud dengan kontaminasi kata, pada dasarnya
merupakan kontaminasi struktur bahasa Indonesia dalam kaidah penyusunan kata.
Kontaminasi pembentukan kata terjadi karena adanya percampuran dua kaidah dalam
satu bentuk kata.
Kontaminasi jenis ini pernah ditulis cukup panjang lebar
oleh Henry Bachtiar, seorang staf bahasa di Harian Media Indonesia dalam kolom
opini koran tersebut yang berjudul: Kutemui Ribuan Kontaminasi (https://mediaindonesia.com/opini/105632/kutemui-ribuan-kontaminasi)
Dalam kolom opini tersebut, ada enam contoh kontaminasi yang
menurut Henry Bachtiar sering ditemuinya ketika mengedit naskah. Keenam kata
tersebut adalah:
Mengenyampingkan, Menggolkan, Membom, Mencat,
Mengotak-kotakkan, dan Memperbaharui.
Menurut Henry Bachtiar, masih dalam artikel opininya yang sama.
Masing-masing kontaminasi itu, disebabkan karena adanya kerancuan saat
pemberian imbuhan (afiksasi).
Mengenyampingkan rancu dengan dengan menyamping karena
kata dasarnya adalah samping. Seolah-olah dalam kata dasar samping saat
mendapatkan imbuhan Meneg- -kan menjadi mengenyampingkan padahal
yang tepat adalah mengesampingkan.
Mengegolkan, membom, mengecat masing-masing berasal
dari kata gol, bom, cat. Ketiganya memiliki kesamaan, yaitu satu suku
kata. Nah, imbuhan meN- (baca me- nasal) tidak berubah menjadi meng-
atau mem- atau men- saat melekat pada kata dengan satu suku kata. Tapi
berubah menjadi Menge-, jadi yang tepat adalah mengegolkan, mengebom,
dan mengecat.
Kata memperbaharui menjadi yang paling unik, di
antara contoh kontaminasi kata yang lain di atas. Kata tersebut seolah-olah
benar, padahal tidak tepat. Kata memperbaharui sudah telanjur banyak
digunakan, jadi beberapa pengguna bahasa Indonesia tidak sadar bahwa itu tidak
tepat, tidak lazim, dalam bahasa Indonesia. Kata memperbaharui berasal
dari kata memper-baharu-i. Bentuk dasar baharu tidak baku dalam
Bahasa Indonesia. Jadi, yang tepat adalah baru. Maka setelah mendapat
konfiks memper- -i, menjadi memperbarui.
Kontaminasi Frasa
Frasa adalah rangkaian dua kata yang memiliki satu makna.
Jadi, ketika frasa telah terkontaminasi sebenarnya adanya frasa yang
dibentuk oleh kata yang mubazir dan berlebihan. Berlebihannya kata dalam
pembentukan frasa ini dapat juga disebut frasa pleonastis.
Setidaknya ada empat penyebab kontaminasi frasa, yaitu:
1. Dalam satu frasa ada lebih dari satu ungkapan yang
bersinonim;
Contoh kalimat:
Demi untuk orang yang disayangi, dia telah sudi rela
melakukan apa saja.
Kalimat di atas mengandung frasa yang terkontaminasi, yaitu
kata demi untuk juga kata dalam frasa sudi rela. Demi sama
artinya dengan untuk, seharusnya bisa digunakan salah satunya saja.
Begitu juga dengan kata sudi rela, pada dasarnya memeliki arti bersedia,
bisa digunakan salah satunya.
Maka, perbaikan yang tepat adalah:
Untuk orang yang disayangi, dia rela melakukan apa saja.
Demi orang yang disayangi, dia sudi melakukan apa saja.
2. Bentuk jamak yang dinyatakan dua kali;
Contoh kalimat:
Para hadirin dimohon untuk berdiri
Pada kalimat di atas, frasa para hadirin menjadi
tidak efektif karena berlebihan. Hadirin memiliki arti orang-orang
yang hadir. Sementara kata para juga bentuk jamak.
Maka, susunan yang tepat adalah: Hadirin dimohon untuk
berdiri.
3. Pengertian kata yang diulang dalam bentuk lain dalam satu
frasa;
Contoh kalimat:
Dia menabung di Bank BNI yang gedungnya bersebelahan
dengan Bank BI.
Dalam kalimat di atas ada frasa Bank BNI, yang pada
dasarnya sudah ada kata bank dalam nama Bank Negara Indonesia. Begitu
juga dengan Bank BI, BI adalah singkatan dari Bank Indonesia. Untuk
menjadi kalimat yang tidak terkontaminasi frasanya, bisa diubah menjadi:
Dia menabung di BNI yang bersebelahan dengan gedung Bank
Indonesia.
4. Kata penanda jamak yang diikuti oleh bentuk jamak;
Contoh kalimat:
Banyak anak-anak di jalan sempit itu.
Dalam kalimat di atas, penanda jamak banyak dilekatkan
pada kata anak-anak yang juga berarti jamak. Hal ini menandakan adanya
penanda jamak yang diikuti dengan bentuk jamak.
Kalimat di atas menjadi lebih baik jika diubah menjadi:
Banyak anak di jalan sempit itu.
Atau
Anak-anak di jalan sempit itu.
Kontaminasi Kalimat
Kontaminasi dalam kalimat terjadi karena tiga hal, yaitu keambiguan,
ketidak-paralalelan, dan ketidak-logisan.
Kalimat ambigu terjadi karena memunculkan tafsir
makna ganda pada sebuah kalimat. Hal ini
terjadi karena penyusunan kalimat yang tidak tidak lengkap, susunan yang tidak
tepat, atau karena tanda baca yang tidak tepat.
Contoh kalimat ambigu:
Kaca mata pejabat baru itu sudah diganti
Kalimat di atas
mengandung keambiguan arti karena susunannya. Menimbulkan kontaminasi kalimat
karena adanya multitafsir atas satu kalimat. Pembaca atau pendengar bisa saja
memahami yang baru berbeda. Kaca mata baru, atau pejabat baru.
Untuk menghindari keambiguan kalimat tersebut dapat diubah
menjadi:
Kaca mata baru milik pejabat itu sudah diganti. (jika
yang baru adalah kaca matanya).
Kaca mata milik pejabat baru itu sudah diganti. (jika yang baru adalah
pejabatnya).
Keambiguan kalimat sehingga menjadi kontaminasi makna, juga
bisa terjadi karena adanya penggunaan tanda baca yang tidak tepat.
Contoh kalimat:
Di kandang itu ular
makan ayam mematuk pakannya.
Tanpa tanda baca koma seperti di atas, bisa saja ada yang
menafsiri ular memakan ayam. Jika diberi tanda baca:
Di kandang itu, ular makan, ayam mematuk pakannya.
Dengan tanda baca koma seperti pada kalimat di atas, bisa
diartikan bahwa ular makan sementara ayam mematuk pakannya.
Kalimat tidak paralel,
terjadi karena dalam sebuah kalimat atau antar-kalimat terdapat
bentuk yang tidak sama. Misalnya bentuk kalimat aktif, dirangkai dengan kalimat
pasif. Hal ini menjadi tidak paralel. Menjadi kontaminasi dalam kalimat.
Contoh dalam kalimat:
Ketika melewati lorong gelap itu dia awalnya berjalan santai
kemudian mempercepat jalannya, lalu dilarikan kakinya secepat mungkin.
Kalimat di atas mengandung predikat yang tidak paralel.
Awalnya berupa imbuhan ber dalam kata berjalan, selanjutnya dilarikan.
Menjadi tidak paralel. Agar menjadi kalimat yang paralel dan tidak
terkontaminasi, kalimat tersebut harus menggunakan bentuk yang sepadan yaitu: berlari.
Menjadi: Ketika melewati lorong gelap itu, awalnya
berjalan santai, kemudian mempercepat jalannya, lalu berlari secepat mungkin.
Kalimat yang tidak logis, merupakan salah satu bentuk
kontaminasi. Ketidak-logisan kalimat ini diakibatkan karena adanya ‘salah
kaprah’. Yaitu sebuah cara berbahasa yang dianggap benar dan tepat karena
sering digunakan, padahal tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Contoh ketidak-logisan kalimat:
Untuk menyingkat waktu, mari acara segera dimulai.
Bentuk di atas adalah bentuk kalimat yang tidak logis. Waktu
tidak bisa disingkat, tidak bisa waktu dipersingkat atau diperpendek.
Kalimat yang tepat adalah, menghemat waktu. Agar
tidak terbuang sia-sia.
Alasan Mengapa Terjadi Kontaminasi
Dari sekian panjang penjelasan tentang kontaminasi, dapat
disimpulkan beberapa hal yang menyebabkan mengapa masih ada terjadinya kontaminasi
bahasa. Jadi jika ada pertanyaan: Mengapa masih terjadi kontaminasi bahasa?
Jawabannya:
Ketidak-tuntasan pemahaman terhadap kaidah bahasa Indonesia
yang tepat, baik berupa kaidah morfologi tentang pembentukan istilah dengan
afiksasi (pengimbuhan), maupun logika penyusunan kalimat. Di samping itu,
alasan mengapa masih terjadi kontaminasi bahasa Indonesia adalah karena terbiasa
atau dalam istilah bahasa Jawa disebut ‘salah-kaprah’. Sebuh susunan
kalimat dalam bahasa Indonesia yang salah tapi sudah terbiasa digunakan oleh
banyak orang.
Demikian penjelasan tentang pengertian kontaminasi dan
jenis-jenis kontaminasi bahasa.
Posting Komentar untuk "Kontaminasi Bahasa | Pengertian, Jenis, dan Alasan Mengapa Masih Terjadi Kontaminasi"
Komentar bisa berupa saran, kritik, dan tanggapan. :)